Rabu, 09 Desember 2015


SURAT AL-BAQARAH 1-3

Dha>lika al-Kita>bu la> Raiba Fi>hi Hudan Lilmuttaqi>n

Al-Ladhi>na Yukminu>na bi al-Ghaibi Wayuqi>mu>na as-S}ola>ta Wa Mimma razaqna>hum Yunfiqu>n

Wa al-Ladhi>na Yukminu>na Bima> Unzila Ilaika Wa Ma> Unzila  Min Qoblika Wabi al-A>khirati Hum Yu>qinu>na 

Kamis, 26 Desember 2013


MASYARAKAT MADANI (Civil Society)


Minggu lalu publik Indonesia dikejutkan dengan berita dari Pakistan, tentang seorang anak perempuan berusia 14 tahun, Malala Yousafzai, yang terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena ditembak oleh kelompok Taliban. Penembakan tersebut tak lepas dari aktivitas Malala yang sejak berusia 11 tahun memperjuangkan kesetaraan nasib anak perempuan di Pakistanterutama di bidang pendidikan, yang mendapat tentangan dari kelompok Taliban, yang merupakan kelompok agama Islam di Pakistan yang beraliran radikal dan sering memaksakan pandangannya melalui kekerasan.  Malalamemberikan pencerahan lewat tulisan-tulisannya di blog BBC yang melayani bahasa Urdu. 
Tulisan-tulisannya berbentuk diary menggambarkan perlakuan kelompok Taliban yang memaksakan hukum Islam di kampung halamannya.  Karena keberaniannya, pada tahun 2011, pemerintah Pakistan memberikan hadiah perdamaian nasional sebesar $10, 500 (kurang lebih 100 juta rupiah).  Ia pun dinamakan sebagai pemenang International Children’s Peace Prize yang diberikan pemerintah Belanda tahun lalu.
Kasus Malala ini penting diangkat karena apa yang dilakukan Malala pada dasarnya merupakan perwujudan pemenuhan hak anak, terutama hak untuk mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak untuk menyampaikan pandangannya, yang diatur dalam Konvensi Hak Anak (KHA).  Apa yang dilakukan oleh Malala sebenarnya sudah banyak dilakukan juga oleh anak-anak Indonesia. Namun, nilai lebihnya adalah Malala berani mengambil resiko perjuangan berupa ancaman terhadap keselamatannya. Selain itu, apa yang dialami Malala tak menutup kemungkinan juga bisa terjadi di Indonesia, karena pelanggaran hak anak juga banyak terdapat di Indonesia, khususnya kekerasan terhadap anak dan pemaksaan pandangan orang dewasa terhadap anak-anak.  Bahkan tak jarang pelanggaran hak anak juga dilakukan oleh pemerintah sendiri melalui kebijakan maupun perlakuan dari pejabat pemerintah sendiri.
Menyimak kasus Malala ini terdapat sejumlah rekomendasi yang bisa diberikan. Pertama, pelanggaran terhadap hak-hak anak dari pihak manapun harus segera dihentikan. Upaya ini juga harus dibarengi dengan sosialisasi yang intensif dan ekstensif tentang hak-hak anak, karena tak jarang yang terjadi adalah pelanggaran tersebut dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan tentang hak-hak anak. Penegakan hukum terhadap para pelanggar hak anak juga harus  dilakukan.
Kedua, keberanian Malala menyampaikan pandangannya sebagai perwujudan dari haknya, hendaknya juga bisa diapresiasi pemerintah Indonesia melalui upaya-upaya yang lebih konkrit yang bisa mendorong anak-anak Indonesia menyampaikan pandangannya tentang berbagai masalah yang dihadapi mereka. Selain dengan penyelenggaraan seleksi Tunas Muda Pemimpin Indonesia oleh Kementerian PPPA, keberadaan forum-forum anak harus selalu didorong dan  dikembangkan hingga tingkat komunitas. Pelibatan kelompok anak dalam  penyusunan kebijakan atau rencana pembangunan di semua tingkat harus dilakukan.
Ketiga, tentang ketokohan dari seorang anak di mata publik, yang selama ini lebih dikaitkan dengan popularitas di bidang hiburan dan olah raga, akan lebih bermakna jika ketokohan tersebut dikaitkan dengan segi perjuangannya dalam membela nasib anak-anak yang tertindas hak-haknya. Sehingga anak-anak Indonesia tidak hanya mengenal Justin Beiber saja, tapi juga bisa mengidolakan seorang Malala Yousafzai.
Semoga perjuangan Malala dalam memperjuangkan hak-hak anak di negaranya bisa menginspirasi tidak hanya anak-anak Indonesia tetapi juga siapa saja yang mempunyai kepedulian dalam pemenuhan hak-hak anak di Indonesia.
(Setiadi Agus Anggrahito – Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia)

WHO AM I ?
Aku adalah Mahasiswi UIN  Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan , Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Awalnya saya tidak ingin kuliah dijurusan pendidikan. Saya lebih ingin mengambil jurusan kesehatan, tetapi keluarga saya tidak ada yang mengizinkan saya untuk mengambil jurusan kesehatan. Mereka lebih suka kalau saya mengambil jurusan pendidikan karena kalau jadi dokter atau perawat itu meskipun tanggal merah tidak pasti libur dan kerjanya itu juga giliran kadang pagi, kadang malam. Sedangkan kalau jadi guru itu meskipun tanggal merah pasti libur dan pulangnya juga tidak sampai malam. Dan saya juga tidak boleh kuliah di daerah Malang.
Setelah saya lulus, saya ikut daftar lewat jalur SNMPTN, tetapi saya tidak diterima. Dengan tidak diterimanya lewat jalur SNMPTN, Saya tidak menyerah saya tetap ingin masuk kuliah diNegeri, karena selama saya SMP dan SMA saya tidak diperbolehkan orang tua saya untuk sekolah di Negeri jadi pada waktu kuliah ini saya hurus bisa masuk Negeri. Setelah saya ikut SNMPTN, saya ikut daftar lewat jalur SBMPTN. Awalnya saya tidak yakin kalau saya bisa masuk lewat jalur ini karena jalur ini harus melewati tes dan beribu-ribu peserta yang ikut pada jalur ini.pada jalur ini saya memilih IAIN fakultas Tarbiyah. jujusan PGMI. Setelah menunggu beberamalama akhirnya hasilnya keluar dan saya dinyatakan diterima.
Alhamdulillah saya senang sekali bisa kuliah di Negeri. Setelah dinyatakan diterima saya pertama kali pergi ke IAIN Surabaya dengan teman saya untuk mengasihkan ijazah dan mendaftar ospek (oscar). Setalah menjalani oscar saya resmi menjadi mahasiswi IAIN. Saya  merasa senang sekali karena,  ditempat ini saya memperoleh banyak pengalaman, teman-teman baru dan pada tahun 2013 ini IAIN juga sudah resmi menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Yang awalnya saya tidak ingin menjadi guru tetapi setelah saya jalani, saya sudah mulai menyukainya.
Dengan saya mengambil jurusan ini semoga empat taun yang akan datang saya bisa mengamalkan ilmu-ilmu saya dengan menjadi guru yang baik, profesional dan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dan aya juga ingin membahagiakan kudua orang tua saya.       


KEADAAN WAKTU PEMILIHAN KEPALA DESA
Pada saat menjelang pemilihan Kepala Desa, masyarakat desa merasa cemas dan binggung karena awalnya calon Kepala Desa cuma ada satu. Mereka tidak ada yang mau mencalonkan sebagai Kepala Desa . Tetapi pada akhirnya salah satu pemilik pabrik rokok diDesa itu mempunyai pemikiran untuk mencalonkan salah satu dari warga untuk menjadi calon Kepala Desa. Pada awalnya dia(calon kepala desa) tidak maumenerima amanaj itu karena dia merasa tidak pantas dan belum sanggup untuk menjadi seorang pemimpin Desa, tetapi semua masyarakat dan pemilik pabrik rokok tersebut tetap bersih kokoh untuk mencalonkan dan mendukungnya. Dan pada akhirnya di bersedia dan sanggup untuk menjadi calon kepala desa walaupan dia merasa berat.
Tiga hari sebelum pemilihan kepala desa, para calon mendatangi semua rumah warga desa untuk meminta do’a restu. Begitu juga dengan para tim sukses dari kedua calon tersebut juga ikut mendatangi rumah warga desa dengan tujuan untuk memberi sedikit uang dan menyuruhnya warga untuk memilih calon kepala desa yang didukung karena setiap calon kepala desa mempunyai tim sukses sendiri-sendiri. Agar mendapat suara terbanyak dan terpilih menjadi kepala desa, tim sukses dari pemilik pabrik rokok yang mendukung calon kepala desa nomer 2 juga berjanji apabila calon yang didukung terpilih menjadi kepala desa maka para pegawainya diajak pergi rekreasi dengan tidak dipunrut biaya.
Malam hari sebelum pemilihan kepala desa, tim sukses dari kedua calon menjaga semua warga desa agar tidak terjadi pengeboman dan perkalahian dari kedua tim sukses dan semua warga desa. Penjagaannya dilakukan disetiap RT demi keamanan warga desa. Tetapi pada malam itu juga terjadi pengeboman kepada salah satu warga yang mendukung calon nomer 2. Pengeboman ini dilakukan oloh tim sukse dari calon nomer 1, denagn cara memberinya uang yang lebih dari yang diberi oleh timsukses calon 2 karena dia (tim sukses calon 1  )ingin warga tersebut mendukung dan memlilih calon kepela desa nomer 1, tetapi itu semua tidak berhasil sebab tertangkap basah oleh salah satu dari tim sukses calon 2. Uang yang awalnya mau dikasihkan kepada salah satu warga tersebut diambil oleh tim sukses calon 2 dan berkata”mana uangnya biar aku buat beli makanan dan rokok untuk warga yang jaga malam. Pada akhirnya uang tersebut dikasihkan kepadanya, lalu tim sukses calon 1 pergi dengan muka yang ditekuk-tekuk.
Pagi harinya para waga desa pergi kebalai desa untuk melakukan pemilihan calon kepala desa. Para calon duduk berdampingan dan keluarganya juga ikut serta. Pada waktui itu para polisi dan hansip juga ikut mengmankan jalan dan keamanan warga. Ada yang menjaga di masjid, pertigaan dan tempat-tempat lainnya. Pemilihan berjalan dengan lancar sampai siang hari. Setelah selesai maka dilakukan perhitungan suara warga desa juga ikut menyaksikannya. Perolehan suara awalnya tidak kalah jauh, keduanya mendapatkan suara yang sama. Tetapi pada akhirnya perolehan suara terbanyak didapatkan oleh calo nomer dua, para pendukungnya sangat senang karena calonnya berhasil menjadi kepala desa yang baru.
Setalah kemenangannya, kepala desa yang baru mengadakan tasyakuran yang diikuti oleh semua warga desa dengan dimeriahkan oleh para penyanyi dan wayang kulit.