Rosyidah Fitriyah
Senin, 28 Desember 2015
Selasa, 15 Desember 2015
Rabu, 09 Desember 2015
Rabu, 21 Oktober 2015
Kamis, 26 Desember 2013
MASYARAKAT MADANI (Civil Society)
Minggu lalu publik Indonesia dikejutkan dengan
berita dari Pakistan, tentang seorang anak perempuan berusia 14 tahun, Malala
Yousafzai, yang terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena ditembak oleh kelompok
Taliban. Penembakan tersebut tak lepas dari aktivitas Malala yang sejak berusia
11 tahun memperjuangkan kesetaraan nasib anak perempuan di Pakistanterutama di
bidang pendidikan, yang mendapat tentangan dari kelompok Taliban, yang
merupakan kelompok agama Islam di Pakistan yang beraliran radikal dan sering
memaksakan pandangannya melalui kekerasan. Malalamemberikan pencerahan
lewat tulisan-tulisannya di blog BBC yang melayani bahasa Urdu.
Tulisan-tulisannya berbentuk diary menggambarkan
perlakuan kelompok Taliban yang memaksakan hukum Islam di kampung
halamannya. Karena keberaniannya, pada tahun 2011, pemerintah
Pakistan memberikan hadiah perdamaian nasional sebesar $10, 500 (kurang
lebih 100 juta rupiah). Ia pun dinamakan sebagai pemenang International
Children’s Peace Prize yang diberikan pemerintah Belanda tahun lalu.
Kasus Malala ini penting diangkat karena apa
yang dilakukan Malala pada dasarnya merupakan perwujudan pemenuhan hak anak,
terutama hak untuk mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan dan
diskriminasi serta hak untuk menyampaikan pandangannya, yang diatur dalam
Konvensi Hak Anak (KHA). Apa yang dilakukan oleh Malala sebenarnya sudah
banyak dilakukan juga oleh anak-anak Indonesia. Namun, nilai lebihnya adalah
Malala berani mengambil resiko perjuangan berupa ancaman terhadap keselamatannya.
Selain itu, apa yang dialami Malala tak menutup kemungkinan juga bisa terjadi
di Indonesia, karena pelanggaran hak anak juga banyak terdapat di Indonesia,
khususnya kekerasan terhadap anak dan pemaksaan pandangan orang dewasa terhadap
anak-anak. Bahkan tak jarang pelanggaran hak anak juga dilakukan oleh
pemerintah sendiri melalui kebijakan maupun perlakuan dari pejabat pemerintah
sendiri.
Menyimak kasus Malala ini terdapat sejumlah
rekomendasi yang bisa diberikan. Pertama, pelanggaran terhadap hak-hak anak
dari pihak manapun harus segera dihentikan. Upaya ini juga harus dibarengi
dengan sosialisasi yang intensif dan ekstensif tentang hak-hak anak, karena tak
jarang yang terjadi adalah pelanggaran tersebut dilatarbelakangi oleh
ketidaktahuan tentang hak-hak anak. Penegakan hukum terhadap para pelanggar hak
anak juga harus dilakukan.
Kedua, keberanian Malala menyampaikan pandangannya sebagai
perwujudan dari haknya, hendaknya juga bisa diapresiasi pemerintah Indonesia
melalui upaya-upaya yang lebih konkrit yang bisa mendorong anak-anak Indonesia
menyampaikan pandangannya tentang berbagai masalah yang dihadapi mereka. Selain
dengan penyelenggaraan seleksi Tunas Muda Pemimpin Indonesia oleh Kementerian
PPPA, keberadaan forum-forum anak harus selalu didorong dan dikembangkan
hingga tingkat komunitas. Pelibatan kelompok anak dalam penyusunan
kebijakan atau rencana pembangunan di semua tingkat harus dilakukan.
Ketiga, tentang ketokohan dari seorang anak di
mata publik, yang selama ini lebih dikaitkan dengan popularitas di bidang
hiburan dan olah raga, akan lebih bermakna jika ketokohan tersebut dikaitkan
dengan segi perjuangannya dalam membela nasib anak-anak yang tertindas
hak-haknya. Sehingga anak-anak Indonesia tidak hanya mengenal Justin Beiber
saja, tapi juga bisa mengidolakan seorang Malala Yousafzai.
Semoga perjuangan Malala dalam memperjuangkan hak-hak anak di
negaranya bisa menginspirasi tidak hanya anak-anak Indonesia tetapi juga siapa
saja yang mempunyai kepedulian dalam pemenuhan hak-hak anak di Indonesia.
(Setiadi Agus Anggrahito –
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia)
WHO
AM I ?
Aku
adalah Mahasiswi UIN Sunan Ampel
Surabaya, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan , Jurusan Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah. Awalnya saya tidak ingin kuliah dijurusan pendidikan. Saya
lebih ingin mengambil jurusan kesehatan, tetapi keluarga saya tidak ada yang
mengizinkan saya untuk mengambil jurusan kesehatan. Mereka lebih suka kalau
saya mengambil jurusan pendidikan karena kalau jadi dokter atau perawat itu
meskipun tanggal merah tidak pasti libur dan kerjanya itu juga giliran kadang
pagi, kadang malam. Sedangkan kalau jadi guru itu meskipun tanggal merah pasti
libur dan pulangnya juga tidak sampai malam. Dan saya juga tidak boleh kuliah
di daerah Malang.
Setelah
saya lulus, saya ikut daftar lewat jalur SNMPTN, tetapi saya tidak diterima.
Dengan tidak diterimanya lewat jalur SNMPTN, Saya tidak menyerah saya tetap
ingin masuk kuliah diNegeri, karena selama saya SMP dan SMA saya tidak
diperbolehkan orang tua saya untuk sekolah di Negeri jadi pada waktu kuliah ini
saya hurus bisa masuk Negeri. Setelah saya ikut SNMPTN, saya ikut daftar lewat
jalur SBMPTN. Awalnya saya tidak yakin kalau saya bisa masuk lewat jalur ini
karena jalur ini harus melewati tes dan beribu-ribu peserta yang ikut pada
jalur ini.pada jalur ini saya memilih IAIN fakultas Tarbiyah. jujusan PGMI.
Setelah menunggu beberamalama akhirnya hasilnya keluar dan saya dinyatakan
diterima.
Alhamdulillah
saya senang sekali bisa kuliah di Negeri. Setelah dinyatakan diterima saya
pertama kali pergi ke IAIN Surabaya dengan teman saya untuk mengasihkan ijazah
dan mendaftar ospek (oscar). Setalah menjalani oscar saya resmi menjadi
mahasiswi IAIN. Saya merasa senang
sekali karena, ditempat ini saya
memperoleh banyak pengalaman, teman-teman baru dan pada tahun 2013 ini IAIN
juga sudah resmi menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Yang
awalnya saya tidak ingin menjadi guru tetapi setelah saya jalani, saya sudah
mulai menyukainya.
Dengan
saya mengambil jurusan ini semoga empat taun yang akan datang saya bisa
mengamalkan ilmu-ilmu saya dengan menjadi guru yang baik, profesional dan dapat
bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dan aya juga ingin membahagiakan kudua
orang tua saya.
KEADAAN WAKTU PEMILIHAN KEPALA DESA
Pada
saat menjelang pemilihan Kepala Desa, masyarakat desa merasa cemas dan binggung
karena awalnya calon Kepala Desa cuma ada satu. Mereka tidak ada yang mau
mencalonkan sebagai Kepala Desa . Tetapi pada akhirnya salah satu pemilik
pabrik rokok diDesa itu mempunyai pemikiran untuk mencalonkan salah satu dari
warga untuk menjadi calon Kepala Desa. Pada awalnya dia(calon kepala desa)
tidak maumenerima amanaj itu karena dia merasa tidak pantas dan belum sanggup
untuk menjadi seorang pemimpin Desa, tetapi semua masyarakat dan pemilik pabrik
rokok tersebut tetap bersih kokoh untuk mencalonkan dan mendukungnya. Dan pada
akhirnya di bersedia dan sanggup untuk menjadi calon kepala desa walaupan dia
merasa berat.
Tiga
hari sebelum pemilihan kepala desa, para calon mendatangi semua rumah warga
desa untuk meminta do’a restu. Begitu juga dengan para tim sukses dari kedua
calon tersebut juga ikut mendatangi rumah warga desa dengan tujuan untuk
memberi sedikit uang dan menyuruhnya warga untuk memilih calon kepala desa yang
didukung karena setiap calon kepala desa mempunyai tim sukses sendiri-sendiri.
Agar mendapat suara terbanyak dan terpilih menjadi kepala desa, tim sukses dari
pemilik pabrik rokok yang mendukung calon kepala desa nomer 2 juga berjanji
apabila calon yang didukung terpilih menjadi kepala desa maka para pegawainya
diajak pergi rekreasi dengan tidak dipunrut biaya.
Malam
hari sebelum pemilihan kepala desa, tim sukses dari kedua calon menjaga semua
warga desa agar tidak terjadi pengeboman dan perkalahian dari kedua tim sukses
dan semua warga desa. Penjagaannya dilakukan disetiap RT demi keamanan warga
desa. Tetapi pada malam itu juga terjadi pengeboman kepada salah satu warga
yang mendukung calon nomer 2. Pengeboman ini dilakukan oloh tim sukse dari
calon nomer 1, denagn cara memberinya uang yang lebih dari yang diberi oleh
timsukses calon 2 karena dia (tim sukses calon 1 )ingin warga tersebut mendukung dan memlilih
calon kepela desa nomer 1, tetapi itu semua tidak berhasil sebab tertangkap
basah oleh salah satu dari tim sukses calon 2. Uang yang awalnya mau dikasihkan
kepada salah satu warga tersebut diambil oleh tim sukses calon 2 dan
berkata”mana uangnya biar aku buat beli makanan dan rokok untuk warga yang jaga
malam. Pada akhirnya uang tersebut dikasihkan kepadanya, lalu tim sukses calon
1 pergi dengan muka yang ditekuk-tekuk.
Pagi
harinya para waga desa pergi kebalai desa untuk melakukan pemilihan calon
kepala desa. Para calon duduk berdampingan dan keluarganya juga ikut serta.
Pada waktui itu para polisi dan hansip juga ikut mengmankan jalan dan keamanan
warga. Ada yang menjaga di masjid, pertigaan dan tempat-tempat lainnya.
Pemilihan berjalan dengan lancar sampai siang hari. Setelah selesai maka
dilakukan perhitungan suara warga desa juga ikut menyaksikannya. Perolehan
suara awalnya tidak kalah jauh, keduanya mendapatkan suara yang sama. Tetapi
pada akhirnya perolehan suara terbanyak didapatkan oleh calo nomer dua, para
pendukungnya sangat senang karena calonnya berhasil menjadi kepala desa yang
baru.
Setalah
kemenangannya, kepala desa yang baru mengadakan tasyakuran yang diikuti oleh
semua warga desa dengan dimeriahkan oleh para penyanyi dan wayang kulit.
Langganan:
Postingan (Atom)

